Kebijakan penyelenggaraan e-learning terdapat pada rencarana strategis pendidikan dan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) 2009-2014 sebagai bagian peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing yang disebutkan sebagai berikut: “Dengan mempertimbangkan pesatnya perkembangan pemanfaatan ICT dalam berbagai sektor kehidupan, pemerintah dan terus mengembangkan pemanfaatan ICT untuk sistem informasi persekolahan dan pembelajaran termasuk pengembangan pembelajaran siswa elektronik (e-learning).
E-learning adalah pembelajaran jarak jauh (distance Learning) yang memanfaatkan teknologi komputer, jaringan komputer dan atau internet. Hal senada juga diungkapkan Som Naidu (2006) yang mendefinisikan e-learning sebagai penggunaan secara sengaja jaringan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses belajar dan mengajar. Istilah lain yang mengacu pada hal yang sama, yaitu online learning atau web based learning. Dengan e-learning memungkinkan mahasiswa untuk belajar melalui komputer ditempat mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi mengikuti perkuliahan di kelas. Dan memacu untuk melakukan kegiatan metode synchronous dan asynchronous pada e-learninf.
Menurut Sindu (2013) suasana pembelajaran e-learning dapat mengakomodasi mahasiswa memainkan peran secara aktif dalam pembelajaran, sehingga mahasiswa membuat perancangan dan mencari materi dengan usaha sendiri. Kecenderungan untuk mengembangkan e-learning sebagai salah satu alternatif pembelajaran di berbagai lembaga pendidikan semakin meningkat sejalan dengan perkembangan bidang teknologi dan informasi. Di sisi lain infrastruktur di bidang telekomunikasi yang menunjang penyelenggaraan e-learning tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi secara bertahap sudah mulai diikuti dan dinikmati oleh mereka yang berada di kota-kota di tingkat kabupaten.
Ada beberapa jenis e-learning yang diterapkan di lembaga pendidikan, namun salah satunya yaitu LMS atau Learning Management System. LMS atau lebih dikenal dengan sebutan learning management system adalah suatu perangkat lunak yang digunakan untuk membuat materi pembelajaran atau perkuliahan secara online berbasiskan web dan mengelola kegiatan pembelajaran serta hasil-hasilnya. Di dalam LMS juga terdapat fitur-fitur yang dapat memenuhi semua kebutuhan dari penggunaan dalam hal pembelajaran. Saat ini ada banyak jenis LMS yang ditawarkan, setiap jenis LMS memiliki keunggulan tersendiri. Edmodo dan Schoology merupakan jenis LMS yang sangat mudah digunakan saat ini. Edmodo dan Schoology merupakan salah satu LMS berbentuk web sosial yang menawarkan pembelajaran sama seperti di dalam kelas secara gratis dan mudah digunakan seperti media sosial Facebook. Pemanfaatan schoology sebagai alternatif bentuk model pembelajaran dirasakan sangat baik untuk meningkatkan motivasi, pemecahan masalah belajar dan berpikir kritis mahasiswa. Berpikir kritis adalah sebagai sebuah pengkajian yang tujuannya untuk mengkaji sebuah situasi, fenomena, pertanyaan, atau masalah untuk mendapatkan sebuah hipotesis atau kesimpulan yang mengintegrasikan semua informasi yang tersedia sehingga dapat dijustifikasi dengan yakin.
Karakteristik berpikir kritis terdiri dari dua hal yaitu, pertama belajar bagaimana bertanya, kapan bertanya, dan apa pertanyaannya, kedua belajar bagaimana bernalar, kapan menggunakan penalaran dan apa metode penalaran yang dipakai. Jadi seseorang yang berpikir kritis maka ia bisa mengajukan pertanyaan yang tepat, menggabungkan informasi yang relevan, secara efisien dan kreatif menyusun informasi, mempunyai nalar yang masuk akal atas informasi yang dimiliki, dan kesimpulan-kesimpulannya konsisten serta dapat dipercaya sehingga dapat dimanfaatkan untuk kehidupan manusia dan bisa memetik keberhasilan. Berpikir kritis adalah pengambilan keputusan secara rasional atas apa yang diyakini dan dikerjakan.
Perkuliahan yang menggunakan e-learning Schoology mempunyai pengaruh terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya perbedaan rata-rata skor gain kemampuan berpikir kritis mahasiswa dakam perkuliahan Profesi Pendidikan yang diperoleh mahasiswa pada kelompok ekesperimen selama proses perkuliahan menggunakan e-learning. Dalam perkuliahan ini, mahasiswa aktif mengemukakan pendapat, mencari dan memecahkan masalah yang diberikan sehingga menemukan pengetahuan yang baru menggunakan fasilitas forum atau chat. Hal tersebut sesuai dengan teori konstruktivisme yang menyatakan mahasiswa mengkonstruksi pengetahuan dan menemukan sendiri serta mentransfor,asikan informasi yang kompleks, mengecek informasi yang baru dengan aturan lama, serta merevisi kembali apabila aturan tersebut tidak berlaku lagi.
Pemecahan masalah, menggunakan ide serta mencari kebenaran adalah titik sentral dari metode ini sehingga mahasiswa mampu mengonstruksi penegtahuannya melalui pembelajaran yang menggunakan e-learning. Dalam perkulihan e-learning mahasiswa melakukan eksplorasi pengetahuan dengan berpikir kritis secara individual dan kelompok memanfaatkan fasilitas group. E-learning sebagai metode pembelajaran berpusat pada mahasiswa yang memiliki keterampilan dan kemampuan yang memadai mempersiapkan mereka untuk berpikir kritis. Hasil pembelajaran menggunakan e-learning berupa peningkatan kemampuan berpikir kritis yang diukur melalui komponen penafsiran, analisis, evaluasi, inferensi, dan penjelasan sesuai dengan pendapat Ramsay,J.and Sorrell,E,(2003:3) bahwa e-learning mengemban belajar berpusat sebagai tujuan utama pendidikan. Selanjutnya e-learning bertujuan untuk mengembangkan mahasiswa dalam pemecahan masalah yang efektif dan berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa menjadi berkembang dengan adanya fasilitas-fasilitas yang terdapat dalam fitur LMS Schoology.
Dapat disimpulkan bahwa perkuliahan yang menggunakan e-learning schoology terbukti dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Pada penelitian ini penggunaan e-learning lebih baik dibandingkan dengan e-learning schoology. Dengan demikian perkuliahan Profesi Pendidikan menggunakan e-learning dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Pada perkuliahan yang menggunakan e-learning schoology mahasiswa berpacu untuk menjadi seseorang yang menemukan suatu ide dalam memecahkan suatu masalah serta mampu mempertahankan pendapatnya kepada mahasiswa lain. Hal sebaliknya mereka akan mempersiapkan argumen suatu solusi terhadap jawaban kelompok lain dalam memecahkan suatu masalah. Pemberian nilai tambah sebagai reward dari dosen terhadap the best thinker adalah suatu alternatif mendorong mahasiswa untuk aktif berpikir kritis. Mahasiswa dibiasakan menguasai kemampuan berpikir kritis sehingga pengetahuan yang telah dibangun mampu dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Kelebihan lain dari e-learning adalah keaktifan berpikir dan berpendapat. Mahasiswa diberikan kesempatan untuk menguji jawaban dan argumen pada kelompok masing-masing sebelum disampaikan dalam fasilitas forum diskusi kelas atau chat.